Diskriminasi Terhadap Terhadap Pembela dan Penista Agama

Diposting pada

Diskriminasi Terhadap Terhadap Pembela dan Penista Agama

*Dr. Slamet Muliono

Aksi memohon maaf disertai menangis Sukmawati Soekarnoputri, untuk meminta maaf kepada umat Islam atas puisi Ibu Indonesia, telah menimbulkan respon yang berbeda. Satu pihak menyatakan bahwa aksi Sukmawati seyogyanya menghentikan tuntutan hukum atas dirinya. Karena dengan meminta berarti dia telah menyadari kesalahannya, dan konsekuensinya, umat Islam harus membatalkan proses tuntutan hukum pada Sukmawati. Di pihak lain, umat Islam harus tetap me nuntut dan meminta kepada pihak berwajib untuk meneruskan proses pengadilan meski sudah meminta maaf. Meminta maaf merupakan sesuatu yang lazim untuk dimaafkan, tetapi penistaan yang telah dilakukan oleh seseorang harus tetap diproses secara hukum.
Menghentikan Proses Pengadilan : Sebuah Preseden

Kalau meminta maaf menjadi babak akhir, sehingga terbebas dari hukuman, maka hal ini bukan hanya preseden buruk, tetapi akan memberi jalan keluar bagi siapapun untuk menista dulu dan nanti akan meminta maaf kepada publik. Hal ini sekan menjadi modus dan tren kepada siapapun untuk melakukan tindakan gegabah, dan kemudian akan meminta maaf. Perilaku menista baru meminta maaf
Ketika umat Islam tidak memaafkan justru dianggap dan dituduh menjadi umat yang pendendam atau pembenci, sementara implikasi negatifnya jumlah para penista akan semakin banyak dan umat Islam selalu menjadi teruduh dan sasaran tembak karena tidak memiliki hati yang lapang dalam memaafkan kesalahan orang yang sudah meminta maaf.

Beberapa elemen umat Islam yang sudah melaporkan ke pihak kepolisian diminta untuk menarik kembali tuntutannya dengan alasan Sukmawati telah meminta maaf. Bahkan pihak kepolisian memberi ruang untuk menyelesaikan kasus ini di luar pengadilan, sehingga kasusnya cepat selesai dan tidak berlarut. Terlebih lagi Sukmawati adalah putri mantan presiden sehingga akan lebih elegan jika tidak ditarik-tarik atau diseret ke pengadilan. Belum lagi dengan terus melaporkan ke pengadilan, maka energi umat Islam akan habis hanya ngurusi hal-hal yang dianggap remeh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *